Photo by Life of Wu from Pexels

Setelah membaca tulisan di Harian Kompas, Rabu (16/3), saya merasa mendapat “vitamin”. Tulisan berjudul “Ketangguhan Jepang Memukau Dunia” itu menggugah rasa kemanusiaan saya. Dikatakan bahwa di tengah cobaan menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, Jepang tampil sebagai negara yang memukau dunia. Reputasi internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Di tulisan ini saya mencuplik kembali beberapa pernyataan dalam artikel tersebut yang menurut saya pantas direnungkan bersama.

Pertama, pemerintah Jepang terus memacu proses evakuasi dan distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya. Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.

Kedua, sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela lainnya.

Associated Press melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan yang ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah sikap sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang terkasih. Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk fokus pada evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik.

Ketiga, bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan kebakaran pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari enam reaktor nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari kasus Chernobyl dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah menjamin tak akan ada insiden Chernobyl di Jepang.

Para blogger dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji Jepang sebagai bangsa yang tabah (stoic) dan bertanya-tanya tentang kemampuan bangsa lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar sekaligus. Mereka memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan beretika.

Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah melahirkan Jepang sebagai bangsa soft power. Istilah itu diciptakannya untuk melukiskan Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi bangsa lain.

Modal Sosial dan Karakter Bangsa

Francis Fukuyama, penulis buku Trust, menggolongkan Jepang sebagai negara yang memiliki modal sosial tinggi (high trust society). Orang Jepang sangat menghormati hierarki, juga dikenal teratur dan memiliki sistem yang tertata dengan baik. Meskipun terkesan agak birokratis, hal ini tidak menjadi kendala dalam proses pengambilan keputusan.

Seorang ibu di tengah reruntuhan rumahnya

Kondisi masyarakat Jepang yang tangguh di tengah cobaan yang sangat berat saat ini mengingatkan saya pada buku yang ditulis oleh Robby Djohan berjudul Leaders & Social Capital, Lead to Togetherness (2007). Bagi yang belum mengenal Robby Djohan, beliau adalah mantan Dirut Bank Niaga, Garuda Indonesia, dan Bank Mandiri. Dalam perjalanannya menjadi orang nomor satu di beberapa perusahaan, Robby melihat bahwa karakter dan perilaku yang baik berkontribusi besar terhadap kinerja karyawan. Robby mengaitkan karakter dasar suatu bangsa dengan modal sosial yang berkembang di negara tersebut. Setelah pensiun, Robby tertarik menulis buku yang mengupas tentang hal itu. Saya merasa beruntung karena Robby meminta saya untuk membantunya mewawancarai beberapa narasumber yang dianggapnya memiliki pengetahuan mengenai modal sosial, sekaligus menjadi editor buku ini. Dalam buku tersebut – khususnya di Bab 7 yang membahas tentang Budaya Unggul – Robby mengungkapkan kekagumannya pada bangsa Jepang. Terlepas dari kenyataan pahit bahwa Jepang pernah menjajah bangsa kita selama 3,5 tahun, menurut Robby, hal itu tidak mengurangi pujiannya terhadap karakter orang Jepang yang sangat disiplin, tekun, dan pantang menyerah. “Setiap masyarakat memiliki konfigurasi nilai yang berbeda untuk mencapai budaya unggul. Pada masyarakat Jepang, misalnya, yang telah berhasil membangun ekonomi luar biasa, oleh banyak kalangan dikatakan sebagai salah satu contoh bangsa yang memiliki budaya unggul.”

Robby menjelaskan, nilai-nilai yang menjadi basis budaya unggul Jepang diperoleh melalui samurai code of conduct (Bushido) yang meliputi:

  • Chu sebagai tugas dan kesetiaan
  • Gi sebagai adil dan bermoral
  • Makoto sebagai tulus dan ikhlas
  • Rei sebagai sopan santun
  • Gin sebagai kasih
  • Yu sebagai keberanian yang heroik
  • Meiyo sebagai kehormatan

Nilai-nilai tersebut merupakan way of life orang Jepang yang bertahan sampai sekarang. Salah satu yang sangat menonjol adalah kesetiaan bekerja di suatu perusahaan (lifetime employment) dan jiwa nasionalisme. Nilai-nilai itulah yang membentuk budaya unggul bangsa Jepang. Hanya saja, Robby mewanti-wanti, dalam memformulasikan budaya Jepang kita harus hati-hati. Mengapa? “Karena bangsa Jepang adalah bangsa yang banyak mengusung ironi. Bangsa ini sangat ramah dan memiliki penghormatan tinggi terhadap keluarga, orang tua, tamu dan rekan kerja. Tetapi di balik keramah-tamahan tersebut juga terkandung sifat kolektif yang sangat kasar dan cenderung menekan pihak lain,” ungkapnya.

Bangsa Jepang juga dikenal memiliki semangat toleransi yang tinggi. Robby menuturkan, sekilas orang Jepang terkesan penurut, tetapi di sisi lain sangat sukar dipenetrasi. “Mereka adalah kelompok yang cenderung konservatif dalam mempertahankan identitas, tetapi habis-habisan dalam mengambil dan mempelajari ilmu-ilmu Barat. Dalam bahasa modal sosial, mereka disebut masyarakat yang bonding dalam mempertahankan tradisi, tetapi bisa berubah menjadi masyarakat yang outward looking dan bridging dalam menghadapi dunia luar termasuk globalisasi,” tulis Robby dalam bukunya (hal 180).

Rakyat Jepang yang selamat saat terjadi tsunami

Robby berpendapat, bangsa Jepang adalah bangsa yang mengembangkan budaya keberanian, sekaligus kekasaran dengan pedang-pedang samurai yang dapat membunuh siapa saja. Di belahan lain, mereka adalah masyarakat yang sangat halus dan memuja hal-hal yang berbau seni, serta dengan tekun mengembangkan bunga seruni. “Mereka adalah orang yang selalu lapar akan materi, tetapi di sisi lain mereka menempatkan spiritualitas – terutama yang berhubungan dengan pengorbanan atas nama Kaisar – di atas segala-galanya. Inilah ironi bangsa Jepang,” katanya menandaskan. “Karena itu,” lanjutnya, “dalam memahami budaya Jepang harus hati-hati dan seksama. Tidak mudah menggeneralisasi definisi yang kaku tentang kebudayaan Jepang.”

Restorasi Meiji dan Bushido

Menilik dari akar sejarah, kemajuan Jepang tidak bisa dilepaskan dari Restorasi Meiji. Restorasi Meiji yang terjadi pada 1866-1869 telah menciptakan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Semenjak itu, pemerintah Jepang terus menjalankan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Salah satunya adalah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku dari luar negeri. Para pemuda pun dikirim ke luar negeri untuk belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tujuannya, untuk mencari ilmu dan menanamkan keyakinan bahwa Jepang bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, khususnya dunia Barat.

Dalam waktu 30 tahun sejak Restorasi Meiji, Jepang mengubah wajahnya menjadi negara maju. Kemajuan Jepang tidak lepas dari mental bangsa ini yang memang telah terbentuk oleh prinsip Bushido yang menekankan pentingnya kerja keras, kejujuran, loyalitas kepada pemimpin, kerja sama, tidak egois, tanggung jawab, dan rasa malu.

Selain Bushido, ada prinsip Kaizen yang menjadi rahasia sukses Jepang. Tiga elemen kunci dalam Kaizen, yaitu: pertama, kualitas. Kualitas tertinggi adalah kualitas yang dapat menyenangkan dan memberikan rasa bangga bagi para pelanggannya. Kedua, pengurangan biaya. Dengan perbaikan terus-menerus pada proses produksi diharapkan dapat diperoleh efisiensi tinggi. Dan ketiga, pengiriman. Produk yang bermutu tinggi dan harga yang rendah, tapi tidak sampai pada pelanggan tepat waktu tidak akan membuat perusahaan menjadi lebih baik.

Prinsip Kaizen ini terlihat dalam aktivitas produksi di perusahaan. Dalam upaya mencapai kemajuan, aspek pendidikan senantiasa menjadi perhatian penting pemerintah Jepang. Kemajuan pendidikan inilah yang berkorelasi dengan kemajuan industri. Penanaman nilai-nilai dilakukan di bangku sekolah sejak anak-anak usia dini dan berlanjut hingga mereka dewasa.

Sekarang, saya balik bertanya ke diri sendiri: Bagaimana dengan negara kita tercinta? Karakter apa yang menjadi identitas bangsa Indonesia?

Kita memiliki Pancasila yang di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur. Bahkan Pancasila dikatakan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Butir-butir yang tertuang dalam pengejawantahan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebenarnya bagus. Namun karena nilai-nilai tersebut ditanamkan secara paksa ke dalam diri setiap orang, maka penerapannya tidak seperti yang diharapkan. Pada akhirnya orang Indonesia menganggap P4 hanya sebuah pengetahuan. Orang wajib tahu, tapi soal pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, itu lain cerita.

Hal menarik lainnya, kita adalah bangsa yang agamis. Seluruh rakyat Indonesia memiliki agama dan percaya kepada Tuhan yang Mahaesa. Tetapi beragama dengan menjalankan perintah agama ternyata dua hal yang berbeda. Terbukti, banyak orang yang beragama tetapi tidak tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Barangkali, inilah mengapa bangsa kita tidak memiliki karakter sekuat bangsa Jepang. Orang Jepang punya falsafah hidup “Ganbaru” yang artinya berjuang sekuat mungkin. Karena itulah meski tak memiliki banyak sumber daya alam, Jepang dapat tumbuh menjadi negara maju. Bayangkan, kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Masalah kita terletak pada sumber daya manusianya yang lemah. Saya berandai-andai, seandainya orang Indonesia mau bangkit dan berusaha keras seperti orang Jepang, Indonesia tentu bisa berkembang melebihi Jepang.

(Bogor, 17 Maret 2011)